Metro, Jakarta - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Soerjanto Tjahjono, mengatakan pihaknya memiliki waktu tiga bulan untuk menyelidiki penyebab terbakarnya kapal Zahro Express. “Sekarang kami sedang kumpulkan catatan kapal sebelum berlayar, perbaikannya, dan minta keterangan penumpang terkait kronologis,” kata Soerjanto di Pelabuhan Kali Adem, Ahad, 1 Januari 2017.

Dari keterangan penumpang, kata dia, titik api kebakaran bermula di mesin kapal. Kemudian api dengan cepat membesar dan melalap badan kapal. Namun pihaknya belum menemukan penyebab pasti kebakaran tersebut.

Sejauh ini, ujarnya, kapal tersebut masih layak pakai dan tidak melebihi kapasitas penumpang. Kapal itu mendapat surat persetujuan berlayar dari Syahbandar Pelabuhan Muara Angke pada 22 Desember lalu. Kapal itu diizinkan memuat penumpang sebanyak 280 penumpang.

Namun, dalam manives penumpang yang membeli tiket melalui Pelabuhan Kali Adem, hanya sekitar 100 orang. Selebihnya, sekitar 200 orang lain tak terdaftar dalam manives. “Ada perbedaan dengan penumpang yang dilaporkan dengan yang di lapangan,” ucap dia.

Saat ini pihaknya sedang mencari tahu kenapa kepabakaran itu bisa terjadi. Pihaknya belum memastikan adanya unsur kelalaian. Menurut Soerjanto, manivest yang tak tercatat ini sering terjadi di sejumlah pelabuhan. Termasuk di Riau dan Tarakan.

Soerjanto juga akan berfokus mencari tahu catatan kapal sebelum terbakar. Termasuk apakah kapal sering rusak, lapuk, dan lain sebagainya. Pihaknya telah mengkonfirmasi hal itu ke Syahbandar Pelabuhan Muara Angke. Namun ia memerlukan validasi data.

Kapal Zahro Express berangkat dari Pelabuhan Muara Angke pukul 08.15 WIB. Dua puluh menit berlayar, kapal dengan berat 106 gross ton itu terbakar di Teluk Jakarta. Menurut manifes kapal, hanya ada 100 penumpang dalam kapal itu. Nyatanya sekitar 260 orang menjadi penumpang. Sebanyak 23 orang korban meninggal.

AVIT HIDAYAT